Peneguhan Ambisi AC Milan di Orbit Perburuan Scudetto

Davide Bartesaghi dari AC Milan terlihat merayakan kemenangan tepat setelah peluit panjang berbunyi di laga kontra Pisa, Jumat, 13 Februari 2026.
Davide Bartesaghi dari AC Milan terlihat merayakan kemenangan tepat setelah peluit panjang berbunyi di laga kontra Pisa, Jumat, 13 Februari 2026.

pojokgol – Pertarungan Pisa vs Milan pada jornada ke-25 Serie A 2025-2026 menutup malam dengan skor 2-1 bagi Rossoneri di Stadion Cetilar Arena, Sabtu (14/2/2026) dini hari WIB. Sebuah hasil yang bukan sekadar angka, melainkan deklarasi subtil bahwa AC Milan tetap beredar di lintasan perebutan takhta domestik.

Sejak peluit awal, duel berjalan dalam tensi tinggi. Pisa menegakkan blok defensif yang disiplin—kompak, nyaris hermetis. Milan dipaksa mencari retakan lewat kilatan individual, bukan aliran kolektif semata. Ritme laga pun mengeras, penuh friksi, minim celah.

Gol penentu lahir di momen kritikal. Luka Modric, figur veteran dengan presisi dingin, menyelesaikan skenario yang menuntut kejernihan. Kemenangan ini mengafirmasi satu hal: Rossoneri belum kehilangan resonansi kompetitif dalam perburuan Scudetto.

Gol Modric, Simfoni Ketegasan di Ujung Waktu

Momen Luka Modric saat melakukan selebrasi setelah menjebol gawang lawan di pertandingan AC Milan vs Pisa pada Jumat, 13 Februari 2026.
Momen Luka Modric saat melakukan selebrasi setelah menjebol gawang lawan di pertandingan AC Milan vs Pisa pada Jumat, 13 Februari 2026.

Ruben Loftus-Cheek membuka keunggulan Milan melalui sundulan terukur di paruh pertama. Namun, peluang memperlebar margin tereduksi ketika Niclas Fullkrug gagal mengeksekusi penalti—bola hanya beresonansi dengan tiang, bukan jala.

Pisa merespons. Felipe Loyola memanfaatkan jeda konsentrasi Milan di babak kedua, mengembalikan ekuilibrium skor. Momentum sempat bergeser, atmosfer menegang. Tapi Modric muncul bak katalis: tusukan tajam ke kotak penalti, diakhiri sentuhan akurat yang memulihkan dominasi.

“Itu vital bagi kami. Kami tak boleh tergelincir hari ini karena poin ini bernilai strategis dalam persaingan liga,” ujar Modric kepada DAZN Italia. “Kami sempat meredup selepas jeda, lalu mengakselerasi tekanan dan mencetak gol yang signifikan.”

Rekor Usia, Apresiasi Tribun

Luka Modric (sebelah kanan) tampak bersukacita merayakan golnya untuk AC Milan dalam lanjutan Serie A melawan Pisa, Jumat, 13 Februari 2026.
Luka Modric (sebelah kanan) tampak bersukacita merayakan golnya untuk AC Milan dalam lanjutan Serie A melawan Pisa, Jumat, 13 Februari 2026.

Dengan torehan tersebut, Modric kini tercatat sebagai pemain tertua ketiga yang mencetak gol di Serie A, pada usia 40 tahun 157 hari. Statistik itu menempatkannya di belakang Alessandro Costacurta dan Zlatan Ibrahimovic—dua nama yang juga pernah mengenakan seragam Milan.

Tribun Rossoneri bergemuruh. Suporter melantunkan chant spesial bagi sang gelandang Kroasia, nyanyian yang sebelumnya lekat dengan dukungan Napoli kepada Diego Armando Maradona. Sebuah gestur emosional, sarat makna simbolik.

“Bangga banget sih bisa denger mereka semua nyanyiin lagu itu buat apresiasi aku. Terima kasih,” kata Modric, dengan ekspresi hangat. Ia mengakui momen tersebut menjadi injeksi motivasi untuk menjaga performa di sisa musim.

Disiplin Fokus: Satu Laga, Satu Target

Begini potret kompak para pemain AC Milan saat merayakan gol di laga Serie A melawan Pisa pada Jumat, 13 Februari 2026.
Begini potret kompak para pemain AC Milan saat merayakan gol di laga Serie A melawan Pisa pada Jumat, 13 Februari 2026.

Pelatih Massimiliano Allegri tampak vokal di sisi lapangan, terus mendorong Loftus-Cheek agar lebih agresif menyerang kotak penalti. Instruksi itu berbuah konkret. Loftus-Cheek menggarisbawahi dampak arahan pelatih dalam terciptanya gol pembuka.

“Ruang antar lini nyaris inexistence. Pisa sangat rapat dan resistan ditembus,” ujar Loftus-Cheek kepada DAZN Italia. “Pelatih insist saya menyerang area penalti. Umpan silang itu akhirnya saya konversi.”

Ia juga menepis distraksi eksternal, termasuk dinamika persaingan dengan Inter di puncak klasemen. Prioritas Milan, tegasnya, adalah stabilitas performa, bukan kalkulasi prematur.

“Esensinya adalah berfokus pada diri sendiri, menatap setiap pertandingan secara atomik,” tutup Loftus-Cheek. “Ketika perhatian terfragmentasi oleh tim lain, konsekuensinya bisa merugikan.”

Laga Pisa vs Milan menjadi refleksi lugas bahwa setiap poin kini bereskalasi makna. Rossoneri masih menapaki jalur panjang, menuntut konsistensi, ketahanan mental, dan eksekusi presisi. Perburuan Scudetto belum usai—ia justru kian intens.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *