Yang Tersisa dari Bentrokan Man City vs Brighton: Kilau Max Alleyne, Jejak Rekor Haaland, dan Asa Arsenal yang Tak Tersentuh

pojokgol.net – Manchester City kembali tertahan langkahnya di Etihad Stadium. Menjamu Brighton dalam lanjutan Liga Inggris, pasukan Josep Guardiola harus puas dengan skor imbang 1-1, sebuah hasil yang terasa pahit di tengah ketatnya persaingan papan atas. Alih-alih mendekat ke singgasana, City justru semakin tertinggal dalam perburuan gelar.
Erling Haaland sempat mengangkat optimisme publik tuan rumah melalui eksekusi penalti yang dingin menjelang turun minum. Gol tersebut bukan hanya membawa City unggul, tetapi juga menandai catatan istimewa: gol ke-150 Haaland bersama The Citizens di semua kompetisi. Sebuah angka yang menegaskan statusnya sebagai predator area terlarang.
Namun keunggulan itu rapuh. Brighton bangkit di babak kedua lewat Kaoru Mitoma, yang menuntaskan peluang dengan penyelesaian klinis ke sudut bawah gawang. Gol tersebut seperti jarum yang meletuskan balon harapan City, memaksa laga berakhir tanpa pemenang.
Hasil ini memperpanjang rentetan tiga laga Premier League tanpa kemenangan bagi Manchester City. Di sisi lain, Arsenal menjadi pihak yang paling diuntungkan, karena tetap kukuh di puncak klasemen dengan jarak poin yang semakin menjauh.
Pukulan Serius dalam Perebutan Gelar

Awal tahun baru berjalan jauh dari kata ideal bagi City. Tiga hasil imbang beruntun terasa janggal bagi tim yang terbiasa mendominasi liga. Enam poin yang menguap bisa menjadi beban berat saat musim memasuki fase penentuan.
Saat ini, City tertinggal lima poin dari Arsenal. Jarak tersebut bahkan berpotensi melebar jika The Gunners mampu menundukkan Liverpool. Situasi ini memaksa Guardiola berharap pada kesalahan rival, sesuatu yang jarang menjadi skenario nyaman bagi pelatih perfeksionis sepertinya.
Fenomena Tiga Hasil Imbang

Bagi Guardiola, tiga hasil imbang beruntun adalah kejadian langka. Sepanjang kariernya, kondisi serupa hanya pernah terjadi dalam dua periode sebelumnya. Ini menandakan ada sesuatu yang tidak berjalan semestinya.
Masalah paling mencolok terletak pada efektivitas di lini depan. Saat menghadapi Brighton, City melepaskan 20 tembakan, tetapi hanya empat yang benar-benar mengarah ke gawang. Dominasi penguasaan bola tidak lagi berbanding lurus dengan hasil akhir.
Jika ketajaman di sepertiga akhir tidak segera kembali, City berisiko terus terjebak dalam siklus kehilangan poin, sesuatu yang bisa berakibat fatal dalam persaingan gelar.
Rekor Haaland di Tengah Malam Sulit

Di tengah kekecewaan kolektif, Erling Haaland tetap menjadi sorotan. Penalti yang ia eksekusi dengan tenang menambah koleksi golnya bersama City menjadi 150. Selain itu, gol tersebut juga tercatat sebagai gol ke-35.000 dalam sejarah Premier League.
Namun, semua pencapaian individual itu terasa hampa tanpa kemenangan. Haaland sekali lagi membuktikan ketajamannya, tetapi sepak bola tetap permainan kolektif. Tanpa dukungan hasil tim, rekor hanya menjadi catatan statistik.
Badai Cedera yang Menggerogoti

Masalah lain yang tak kalah krusial adalah krisis cedera. Guardiola harus kehilangan delapan pemain utama saat melawan Brighton. Enam di antaranya absen total karena cedera serius.
Josko Gvardiol menjadi pukulan terbesar setelah mengalami retak tulang tibia yang berpotensi membuatnya menepi hingga akhir musim. Ruben Dias juga harus absen beberapa pekan akibat cedera hamstring, sementara Savinho diperkirakan menepi hingga dua bulan.
Kondisi ini memaksa City melakukan rotasi ekstrem, terutama di lini belakang yang kini berada dalam kondisi darurat.
Debut Berani Max Alleyne

Dalam situasi krisis, Guardiola mengambil keputusan berani dengan menurunkan Max Alleyne sebagai starter. Bek berusia 20 tahun itu baru kembali dari masa peminjaman di Watford dan langsung dipercaya mengisi jantung pertahanan.
Dipadukan dengan Abdukodir Khusanov, Alleyne tampil tanpa rasa gentar. Ia menunjukkan ketenangan yang jarang dimiliki pemain seusianya, mampu mengimbangi agresivitas lini depan Brighton.
Catatan statistiknya pun impresif. Alleyne memenangkan banyak duel penting dan mencatatkan akurasi umpan nyaris sempurna. Sebuah debut yang melampaui ekspektasi dan memberi secercah harapan di tengah krisis.
Pujian Guardiola

Usai laga, Guardiola tak ragu melontarkan pujian. Ia mengapresiasi perkembangan Alleyne selama masa peminjaman dan menilai sang pemain memiliki masa depan cerah.
Menurut Guardiola, meski masih ada kekurangan dalam bertahan, kemampuan Alleyne membaca transisi dan kualitasnya saat menguasai bola sudah berada di level tinggi. Penampilan tersebut menjadi salah satu sisi positif dari malam yang sulit bagi City.
Lini Belakang yang Rawan

Absennya nama-nama senior seperti John Stones, Ruben Dias, dan Gvardiol membuat pertahanan City jauh dari kata ideal. Nathan Ake dan Khusanov kini menjadi tumpuan utama, meski keduanya masih menghadapi ketidakpastian, baik dari sisi performa maupun masa depan.
City dikabarkan mulai melirik Marc Guehi sebagai solusi jangka panjang. Namun untuk saat ini, mereka harus bertahan dengan komposisi yang ada sambil berharap badai cedera segera berlalu.
Brighton, Lawan yang Tak Lagi Inferior

Brighton kembali membuktikan diri sebagai lawan yang merepotkan. Dalam empat pertemuan terakhir Premier League, mereka mengoleksi delapan poin dari City. Sebuah catatan yang menunjukkan perubahan peta kekuatan.
Di bawah arahan Fabian Hurzeler, Brighton tampil berani dan disiplin. Gaya bermain progresif mereka mampu menekan City, baik di kandang maupun tandang. The Seagulls kini bukan lagi tim yang datang ke Etihad dengan mental bertahan.
Menanti Kepelesetan Arsenal

Dengan 17 laga tersisa, peluang juara City masih terbuka di atas kertas. Namun, kendali sepenuhnya tidak lagi berada di tangan mereka. Arsenal berada di posisi terdepan dan hanya konsistensi yang bisa menjatuhkan mereka.
Bagi City, tidak ada pilihan selain kembali ke jalur kemenangan. Setiap hasil imbang kini terasa seperti kekalahan. Tekanan psikologis harus dikembalikan kepada Arsenal jika City ingin tetap relevan dalam perburuan gelar Liga Inggris musim ini.
BACA JUGA: Rekap Liga Italia Tadi Malam: Como, Roma, dan Juventus Pulang Membawa Senyum dari Tanah Lawan
