Pelatih “Arogan” Lulusan Carlo Ancelotti, Motor Senyap di Balik Kebangkitan Manchester United Era Michael Carrick

Penyerang Manchester United, Matheus Cunha, merayakan gol ketiganya saat laga kontra Arsenal di London pada Minggu, 25-01-2026.
Penyerang Manchester United, Matheus Cunha, merayakan gol ketiganya saat laga kontra Arsenal di London pada Minggu, 25-01-2026.

pojokgol.net – Lonjakan performa Manchester United di bawah kendali Michael Carrick datang seperti badai yang tak diumumkan. Publik tercengang, lawan terpaku, dan Old Trafford kembali berdenyut. Namun, di balik sorak-sorai itu, ada figur sunyi yang bekerja tanpa lampu sorot—sosok yang kini pelan-pelan mengklaim perannya sebagai pengungkit utama kebangkitan.

Nama itu Steve Holland. Asisten pelatih berwajah dingin, berkarakter keras, kerap dilabeli “arogan”. Citra yang jauh dari kata ramah, tetapi justru menjadi katalis bagi fondasi baru Carrick sebagai pelatih interim.

Dua kemenangan beruntun atas Manchester City dan Arsenal dalam kurun sepekan terasa nyaris surealis bagi pendukung Setan Merah. Hasil-hasil tersebut bukan sekadar angka; ia adalah pernyataan. Carrick memimpin dengan ketenangan yang nyaris steril dari kesalahan, meski mandatnya jelas bersifat sementara. Hanya 15 pertandingan sebelum manajemen INEOS menancapkan pilihan pada nakhoda permanen di musim panas.

Pasca pemecatan Ruben Amorim, seluruh struktur kepelatihan lama dibersihkan. Carrick dipaksa merakit timnya sendiri dari ruang kosong—sebuah perjudian yang awalnya dipandang nekat. Nyatanya, keputusan itu justru menjelma hasil yang menjanjikan.

Steve Holland: Tangan Besi yang Menghasilkan Dampak Nyata

Sosok Steve Holland di masa kepemimpinannya sebagai pelatih Yokohama F Marinos.
Sosok Steve Holland di masa kepemimpinannya sebagai pelatih Yokohama F Marinos.

Penunjukan Steve Holland sempat mengundang alis terangkat. Carrick dan Holland tak memiliki sejarah kerja bersama. Namun, pengaruhnya langsung terasa, terutama dalam orkestrasi bertahan Manchester United yang selama ini rapuh.

Ketika United menundukkan Arsenal 3-2, perubahan itu kasatmata. Garis pertahanan lebih rapi, jarak antarlini terjaga, dan koordinasi hadir bukan sebagai slogan, melainkan praktik. Disiplin menjadi bahasa baru yang dipahami semua pemain.

Mark Ogden, jurnalis senior, menguliti karakter Holland dalam podcast The Football Reporters. Potretnya jauh dari figur populer, tetapi efektif.

“Dia bukan tipe pelatih yang disukai banyak pemain. Keras, dingin, terkadang arogan,” ujar Ogden. “Namun rekam jejaknya berbicara. Dia ditempa di Chelsea, bekerja bersama Jose Mourinho dan Carlo Ancelotti, dan menjadi bagian dari fase emas tim nasional Inggris.”

Menurut Ogden, kredibilitas Holland berada di strata yang jarang dimiliki staf pelatih Manchester United dalam beberapa tahun terakhir—bahkan jika ditarik mundur ke era Rene Meulensteen atau Carlos Queiroz.

Menambal Kekosongan Pengalaman Michael Carrick

Manajer MU, Michael Carrick, tampak memberikan arahan dari teknikal area dalam pertandingan Premier League melawan Arsenal, Minggu, 25-01-2026.
Manajer MU, Michael Carrick, tampak memberikan arahan dari teknikal area dalam pertandingan Premier League melawan Arsenal, Minggu, 25-01-2026.

Satu kerikil yang kerap mengganjal legitimasi Carrick sebagai pelatih permanen adalah minimnya jam terbang di puncak piramida. Usia 44 tahun, pengalaman sebagai staf di bawah Jose Mourinho dan Ole Gunnar Solskjaer, serta tiga musim bersama Middlesbrough—semuanya bernilai, tetapi belum cukup untuk label elite.

Di titik inilah Steve Holland memainkan peran krusial. Ia membawa standar kerja, perspektif, dan mentalitas dari pelatih-pelatih kelas dunia yang pernah membentuknya. Carrick yang tenang dan Holland yang tegas menciptakan simetri—seperti air dan baja—di ruang ganti.

Harry Maguire, sang kapten, bahkan melontarkan pujian terbuka. Ia menyoroti kontribusi Holland dalam merapikan sistem bertahan. United kini tampil lebih padat, lebih kompak, dan lebih bertanggung jawab saat kehilangan bola—sebuah evolusi yang terasa, bukan sekadar terlihat.

Jika pada akhirnya Michael Carrick diberi kepercayaan untuk memimpin Manchester United secara permanen, satu prasyarat tampak tak terbantahkan: mempertahankan Steve Holland di Old Trafford. Dalam hiruk-pikuk sepak bola modern, stabilitas sering lahir dari sosok yang tak mencari panggung—dan Holland adalah definisi dari kekuatan sunyi itu.

BACA JUGA: Man of the Match Crystal Palace vs Chelsea: Estevao

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *