8 Kandidat Pelatih Man United Setelah Thomas Tuchel Menepi: Ratcliffe Harus Menghubungi Xabi Alonso?

Momen gembira para penggawa Manchester United setelah duel kontra Fulham beres di Old Trafford.
Momen gembira para penggawa Manchester United setelah duel kontra Fulham beres di Old Trafford.

pojokgol – Perburuan arsitek anyar Manchester United kembali memanas, memasuki fase yang nyaris menentukan arah masa depan klub. Asa memboyong Thomas Tuchel resmi sirna usai juru taktik Jerman itu meneguhkan loyalitasnya bersama Timnas Inggris. Dengan kontrak terbarunya, pintu menuju Old Trafford praktis terkunci rapat.

Konstelasi ini memaksa petinggi Setan Merah—kini berada di orbit kendali Sir Jim Ratcliffe—untuk meracik ulang strategi. Tidak ada ruang bagi improvisasi sembrono; setiap keputusan akan membentuk anatomi proyek jangka panjang.

Setelah episode transisional dan eksperimen pelatih interim, United sesungguhnya memiliki rentang waktu yang memadai untuk menetapkan nahkoda permanen. Preseden serupa pernah terjadi saat Erik ten Hag diamankan pada April 2022, jauh sebelum tirai musim diturunkan.

Kini, spektrum kandidat kembali melebar. Nama-nama beredar, wacana berkembang, tetapi pertanyaan utamanya tetap sama: siapa figur paling rasional, paling kompatibel, dan paling sinkron dengan ambisi United untuk kembali merajai elite pada 2028?

Carlo Ancelotti

Veteran taktik asal Italia ini terikat komitmen dengan Timnas Brasil hingga Piala Dunia mendatang. Rekam jejaknya monumental—lima mahkota Liga Champions bersama AC Milan dan Real Madrid menjadi testimoni kelas dunia.

Namun, Ancelotti identik dengan orkestrasi skuad premium, penuh talenta mapan. Manchester United saat ini belum sepenuhnya merepresentasikan ekosistem sekelas Milan atau Madrid pada era supremasinya.

Dengan usia 66 tahun dan residu pengalaman Premier League bersama Everton yang tak sepenuhnya gemilang, opsi ini terasa kurang selaras dengan visi rekonstruksi berjangka panjang.

Mauricio Pochettino

Nama Pochettino telah lama menghuni radar United. Bahkan, Sir Alex Ferguson kabarnya pernah menaruh simpati pada sosok Argentina tersebut. Akan tetapi, lintasan kariernya pasca-Tottenham menyisakan tanda tanya.

Episode di PSG tak berujung manis, fase Chelsea berjalan tanpa resonansi stabil, dan kini ia menukangi Timnas Amerika Serikat. Momentum yang dulu melekat tampak meredup.

Pengalaman Premier League memang relevan, tetapi United memerlukan lebih dari sekadar romantisme historis.

Oliver Glasner

Pelatih Austria ini sempat mencuri sorotan bersama Crystal Palace. Ada kilatan potensi, ada dinamika yang menjanjikan, tetapi konsistensi belum menjadi ciri khas permanen.

Satu lintasan impresif di Piala FA belum cukup menjadi legitimasi menuju klub sebesar Manchester United. Old Trafford menuntut stabilitas mental, ketegasan struktur, serta otoritas ruang ganti.

Andoni Iraola

Iraola memperlihatkan progres signifikan bersama Bournemouth. Skema menyerangnya enerjik, progresif, dan kerap memikat secara visual.

Meski demikian, tekanan ekstrem di klub raksasa menghadirkan dimensi berbeda. United menargetkan akselerasi prestasi, bukan sekadar evolusi gradual.

Iraola tampak ideal untuk proyek bertahap, bukan revolusi berkecepatan tinggi.

Xabi Alonso

Di sinilah Ratcliffe semestinya mempertimbangkan langkah berani, bahkan jika terasa “tidak populer”.

Alonso mencetak prestasi sensasional bersama Bayer Leverkusen, mematahkan hegemoni Bayern Munich selama lebih dari satu dekade di Bundesliga. Sebuah capaian yang menggema.

Kapasitas taktisnya tajam, pendekatannya modern, dan fondasi filosofinya terbentuk dari pengalaman bermain di bawah pelatih elite—Ancelotti, Mourinho, hingga Guardiola. Asosiasinya dengan Liverpool seyogianya tidak menjadi sekat psikologis.

Jika United mendambakan pelatih kontemporer dengan visi strategis dan disiplin struktural, Alonso muncul sebagai kandidat yang pantas diperjuangkan secara serius.

Xavi

Legenda Barcelona ini masih berada di luar orbit klub sejak meninggalkan Camp Nou. Ia mempersembahkan gelar La Liga 2022-23 dan dikenal sebagai puritan filosofi penguasaan bola.

Namun, portofolio kepelatihannya relatif terbatas. Selain Barcelona, hanya Al Sadd yang tercatat dalam CV-nya. Nama besar memang menghadirkan magnet, tetapi United memerlukan lebih dari sekadar aura simbolik.

Julian Nagelsmann

Pada usia yang masih muda, Nagelsmann telah menjelma ikon generasi pelatih progresif. Pengalamannya bersama RB Leipzig dan Bayern Munich menunjukkan kecakapan analitis serta fleksibilitas taktik.

Kontraknya dengan Timnas Jerman hingga 2028 memang menjadi rintangan administratif. Tetapi, ketertarikan kembali ke dinamika klub elite hampir selalu menjadi kemungkinan terbuka.

Jika United mengincar pelatih muda dengan pendekatan berbasis data dan inovasi sistemik, Nagelsmann merupakan opsi yang sangat rasional.

Luis Enrique

Bagi sebagian besar pendukung sepak bola modern, Enrique merepresentasikan paket komplet. Ia memenangkan Liga Champions, menegakkan disiplin taktik, sekaligus menjaga komunikasi efektif dengan pemain.

Hambatan utamanya bersifat kontraktual—ia masih bersama PSG. Membujuknya meninggalkan proyek Qatar tentu bukan perkara sederhana.

Namun, jika ada satu figur yang mampu mendongkrak standar kompetitif United secara instan, Luis Enrique berada di strata teratas daftar prioritas.

Epilog

Manchester United kini berdiri di persimpangan strategis. Pilihan mereka bukan semata soal nama, melainkan kompatibilitas filosofi, keberanian visi, dan ketahanan menghadapi turbulensi ekspektasi.

Ratcliffe tidak hanya membutuhkan pelatih. Ia memerlukan arsitek masa depan.

BACA JUGA: Arsenal Kembali Tersandung: Ritme Melemah, Margin Puncak Premier League Kian Tergerus

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *