Como vs Roma Kian Membara! Cesc Fabregas Tegas: Pemain Dilarang Mengkhayal soal Liga Champions

Cesc Fabregas, sosok yang melatih tim Como.
Cesc Fabregas, sosok yang melatih tim Como.

pojokgol – Menjelang duel yang diprediksi penuh tensi antara Como dan AS Roma, sosok Cesc Fabregas tampil dengan pernyataan yang cukup menggelitik sekaligus reflektif. Arsitek tim Como tersebut—yang dahulu pernah memahat karier gemilang bersama Barcelona—membuka diskusi mengenai filosofi pembangunan serangan yang selama ini kerap disalahpahami.

Menurutnya, narasi populer yang menyebut Manchester City selalu merajut serangan dari garis pertahanan hanyalah simplifikasi yang terlalu dangkal. Bagi Fabregas, sepak bola modern jauh lebih elastis dan situasional daripada sekadar pola statis build-up dari belakang.

Komentar tersebut muncul saat ia mempersiapkan timnya menghadapi laga berat kontra Roma. Fabregas dikenal sebagai pelatih muda dengan cara berpikir taktis yang tidak konvensional—kadang bahkan terasa eksentrik bagi sebagian pengamat.

Saat ini Como sedang menikmati posisi yang cukup mengejutkan di papan atas Serie A. Bertengger di peringkat empat tentu membuat banyak pihak terbelalak. Namun bagi Fabregas, situasi tersebut bukan alasan untuk larut dalam euforia berlebihan.

Ketika awak media menyinggung kemungkinan timnya melangkah ke Liga Champions, respons sang pelatih justru terdengar datar dan penuh kehati-hatian.

“Jika suatu saat kami sampai di sana, tentu itu kabar baik. Jika tidak, perjalanan ini tetap berjalan,” ujar Fabregas dengan nada tenang dalam konferensi pers.

Liga Champions Jadi Topik Terlarang di Ruang Ganti

Keberadaan Como di empat besar Serie A secara alami memantik optimisme para pendukung. Namun di dalam ruang ganti, Fabregas memilih meredam imajinasi yang dianggap terlalu prematur.

Ia bahkan secara eksplisit melarang para pemain membicarakan Liga Champions.

Baginya, diskursus semacam itu berpotensi mengalihkan fokus dari tujuan utama: membangun fondasi tim secara bertahap dan konsisten.

“Jika pada akhirnya kami tiba di sana, bagus. Jika tidak, kami tetap melanjutkan proses pembentukan tim,” ucapnya.

Nada suaranya kemudian berubah lebih tegas.

“Saya akan kesal jika pemain saya mulai berbicara tentang Liga Champions sekarang. Bukan karena kompetisi itu tidak penting, tetapi karena waktunya belum tepat,” tegas Fabregas.

Hormat Tinggi untuk AS Roma

Gaya selebrasi Wesley Franca, bek sayap Roma, saat mencetak gol ke gawang Juventus tanggal 2 Maret 2026.
Gaya selebrasi Wesley Franca, bek sayap Roma, saat mencetak gol ke gawang Juventus tanggal 2 Maret 2026.

Menghadapi Roma jelas bukan perkara ringan. Fabregas mengakui bahwa lawannya memiliki kedalaman skuad yang impresif dan kualitas individu yang sulit diabaikan.

Ia secara khusus menyoroti aktivitas transfer Roma pada bursa Januari yang menurutnya sangat strategis.

“Jendela transfer mereka luar biasa. Mereka meningkatkan kualitas tim lebih cepat dibanding klub lain,” ungkap Fabregas dengan nada apresiatif.

Bagi Como, pertandingan ini menuntut performa hampir tanpa cela. Fabregas bahkan mengingatkan anak asuhnya untuk mengulang standar permainan tinggi yang pernah mereka tunjukkan sebelumnya.

Ia merujuk kemenangan impresif yang diraih saat menghadapi Napoli serta duel kontra Juventus.

“Kami membutuhkan pertandingan yang nyaris sempurna—seperti saat menang di Napoli atau ketika menghadapi Juventus,” ujar mantan gelandang Arsenal tersebut.

“Yang paling penting adalah tetap bermain dengan identitas kami sendiri. Setelah itu, biarkan lapangan yang berbicara,” lanjutnya.

Fabregas Singgung Filosofi Guardiola

Fabregas juga menyinggung kemungkinan perubahan pendekatan taktis akibat absennya beberapa pemain kunci. Dalam diskusi itu, ia menyoroti peran vital Nico Paz di sektor tengah.

Beberapa pihak menyarankan agar Paz dimainkan lebih dalam. Namun Fabregas menolak gagasan tersebut dengan cukup tegas.

“Belum. Dia adalah seorang trequartista—pemain yang bergerak berdasarkan intuisi dan naluri kreatif,” jelasnya.

Ketika membicarakan alternatif taktik, Fabregas menggunakan analogi yang cukup menarik dengan menyinggung filosofi permainan yang diterapkan oleh Pep Guardiola di Manchester City.

“Apakah Anda benar-benar berpikir tim Guardiola selalu memulai serangan dari belakang? Tidak juga,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa realitas pertandingan sering kali memaksa tim untuk beradaptasi.

“Kadang lawan menekan Anda tanpa henti. Kadang Anda tidak memiliki pemain seperti Sergio Busquets atau Gerard Piqué yang mampu mengontrol fase pertama permainan.”

Menurut Fabregas, ketika seorang pelatih merasa ragu terhadap fondasi build-up timnya, maka satu-satunya solusi adalah bekerja lebih keras hingga rasa percaya itu terbentuk kembali.

Dan bagi Como, proses itulah yang saat ini sedang mereka jalani—perlahan, disiplin, dan tanpa tergoda mimpi yang datang terlalu dini.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *