Arsenal Kembali Tersandung: Ritme Melemah, Margin Puncak Premier League Kian Tergerus

Gabriel Magalhaes dan Viktor Gyokeres usai laga Brentford vs Arsenal di Liga Inggris 2025-2026, Jumat (13-2-2026).
Gabriel Magalhaes dan Viktor Gyokeres usai laga Brentford vs Arsenal di Liga Inggris 2025-2026, Jumat (13-2-2026).

pojokgol – Langkah Arsenal kembali terhambat. Di panggung Premier League, mereka gagal memaksimalkan momentum setelah dipaksa berbagi skor 1-1 oleh Brentford. Dampaknya nyata: selisih angka skuad racikan Mikel Arteta atas Manchester City kini menyusut, tinggal empat poin — jarak yang terasa rapuh dalam pusaran perburuan gelar.

Sehari sebelumnya, City melenggang tanpa cela. Kemenangan 3-0 kontra Fulham menjadi pernyataan tegas sekaligus sumber tekanan psikologis bagi Arsenal. Ekspektasi pun membumbung: publik menanti respons meyakinkan, sebuah deklarasi dominasi untuk mengembalikan bantalan enam poin yang sempat mereka genggam.

Namun realitas berkata lain. Alih-alih tampil superior, Arsenal justru memperlihatkan performa yang terasa tumpul, bahkan gamang. Hasil di Gtech Community Stadium memperpanjang katalog momen limbung pada fase yang seharusnya menjadi panggung ketegasan.

Arsenal Kehilangan Kendali, Tempo Tak Pernah Stabil

Gol pembuka sempat memantik optimisme. Noni Madueke memecah kebuntuan lewat sundulan presisi di menit ke-60, menyambar umpan silang Piero Hincapie setelah bola sapuan Michael Kayode jatuh di zona berbahaya. Sekilas, itu tampak seperti titik balik yang dinanti.

Sayangnya, keunggulan tersebut bersifat sementara. Hanya berselang sepuluh menit, Keane Lewis-Potter merestorasi keseimbangan. Berawal dari duel udara yang dimenangkan Sepp Van Den Berg menyusul lemparan jauh Kayode, Lewis-Potter menyergap bola pantul dengan tandukan keras yang menaklukkan David Raya.

Sejak momen itu, lanskap pertandingan berubah. Brentford tampil lebih agresif, lebih berani, lebih hidup. Arsenal? Terlihat reaktif. Kehilangan ketenangan, kehilangan kontrol.

Absennya William Saliba akibat sakit terasa signifikan. Struktur defensif Arsenal tampak kurang kohesif, koordinasi melemah, dan aura kepastian yang biasanya hadir di lini belakang mendadak menguap.

Peluang Menguap, Tekanan Menggulung

Babak pertama menghadirkan alarm serius. Lemparan Raya yang kurang terukur kepada Declan Rice direbut Mathias Jensen. Umpan silangnya menemukan Igor Thiago dalam posisi mengancam, tetapi Raya menebus kelengahan lewat refleks satu tangan yang brilian.

Ironisnya, Arsenal menutup paruh awal laga tanpa kans ofensif yang benar-benar substansial. Eberechi Eze, yang mencatatkan starter liga pertamanya dalam dua bulan, tak mampu memberi diferensiasi signifikan dan ditarik keluar selepas 45 menit, digantikan Martin Odegaard yang baru pulih dari cedera.

Di paruh kedua, atmosfer stadion semakin menggigit. Chant sinis dari tribun — “Top of the league, you’re having a laugh” — menggema, memantulkan frustrasi sekaligus sindiran tajam terhadap performa Arsenal yang belum kunjung meyakinkan.

Setelah skor kembali imbang, duel berkembang liar. Igor Thiago melewatkan peluang emas di masa tambahan waktu saat berhadapan langsung dengan Raya. Di sisi lain, Gabriel Martinelli nyaris mencuri kemenangan, tetapi upayanya dimentahkan penyelamatan reflektif Caoimhin Kelleher.

Satu Poin, Banyak Pertanyaan

Peluit akhir menutup laga dengan skor 1-1. Secara matematis, Arsenal menambah angka. Secara naratif, hasil ini terasa lebih kompleks: sinyal peringatan tentang konsistensi yang mulai tergerus.

Dalam kompetisi maraton seperti Premier League, margin kecil bisa bermetamorfosis menjadi jurang krusial. Dan ketika Manchester City terus menekan dengan stabilitas yang nyaris mekanis, setiap terpeleset menjadi cerita besar.

Arsenal masih memimpin. Tetapi kini, mereka juga dikejar — lebih dekat, lebih intens, lebih berbahaya.

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *