Empat Pelatih Sebelum Musim Menginjak Maret: Nottingham Forest Benar-Benar Fenomena

pojokgol – Drama di Nottingham Forest kembali memantik diskursus setelah klub menghentikan kerja sama dengan Sean Dyche. Keputusan itu membuka pintu bagi penunjukan manajer keempat dalam satu musim — sebuah anomali yang nyaris tak pernah terlihat dalam konteks permanen di Premier League.
Jarak tiga poin dari zona degradasi terasa seperti jurang yang senyap namun menganga. Ancaman turun kasta semakin konkret, sementara stabilitas — aset yang dahulu menjadi jangkar — kini seperti kabut yang buyar diterpa badai keputusan.
Di balik turbulensi tersebut, satu figur terus berada di pusat orbit percakapan: Evangelos Marinakis.
Erosi Spirit Kolektif di Ruang Ganti
Dalam lanskap modern, Forest sempat merasakan denyut identitas yang solid di bawah Steve Cooper dan Nuno Espirito Santo. Dua sosok dengan blueprint berbeda, tetapi berbagi satu prinsip fundamental: merawat kohesi internal.
Era Cooper menandai renaissance. Dari kerasnya Championship, Forest menembus kembali panggung utama pada 2022. Sementara di bawah Nuno, klub menikmati fase impresif — periode ketika mimpi Liga Champions bukan sekadar retorika optimistis.
Nuno bahkan merancang pramusim di Murcia, Spanyol. Bukan sekadar agenda teknis, melainkan strategi psikologis: mengasah chemistry, membangun trust, mempertebal rasa “kami”. Kini, fondasi itu terasa rapuh, nyaris tereduksi.
Nottingham Forest dan Rekor yang Mengintai
Pengganti Dyche berpotensi menjadi manajer keempat Forest musim ini. Dalam sejarah liga, pergantian empat pelatih memang pernah terjadi, namun lazimnya melibatkan caretaker temporer.
Kasus Forest menghadirkan diferensiasi mencolok. Klub ini berada di ambang catatan historis sebagai tim pertama dengan empat pelatih permanen dalam satu kampanye liga.
Ironisnya, bahkan jika figur berikutnya hanya berstatus interim, kalender masih menyisakan belasan pertandingan. Paradoks pun muncul: ia bisa menjadi salah satu pelatih “terlama” musim ini hanya karena rotasi yang hiperaktif.
Situasi di City Ground mencerminkan instabilitas struktural. Tiap keputusan tampak independen, tetapi ketika dirangkai, membentuk mosaik chaos yang sulit dinegasikan.
Rasionalitas yang Berubah Menjadi Pola
Secara parsial, setiap pemecatan dapat diperdebatkan. Relasi dengan Nuno disebut mengalami friksi. Ange Postecoglou hanya bertahan delapan laga — terminasi yang bisa ditafsirkan sebagai corrective maneuver.
Dyche sendiri dinilai gagal menghasilkan elevasi performa yang sustainable. Ketika rival degradasi mulai mengoleksi poin, urgensi untuk bertindak cepat terasa logis.
Namun akumulasi fakta menghadirkan narasi berbeda. Tiga manajer diberhentikan setelah tiga, lima, dan 18 pertandingan liga. Itu bukan sekadar dinamika, melainkan indikasi disonansi perencanaan.
Dan pada akhirnya, keputusan terminal selalu bermuara pada Marinakis.
Marinakis: Arsitek Progres, Figur Paradoks
Secara historis, kontribusi Marinakis tak dapat diabaikan. Ketika mengambil alih pada 2017, Forest berada di tepian krisis. Sembilan tahun berselang, klub mencicipi Liga Europa dan menikmati kontinuitas di kasta tertinggi setelah absen panjang.
Investasi transfer, ekspansi ambisi, serta citra klub yang lebih berani — semuanya menjadi bagian dari transformasi era Marinakis. Di mata suporter, mentalitas agresifnya kerap dipersepsikan selaras dengan DNA klub.
Namun musim ini menghadirkan ironi subtil. Nama Marinakis muncul dalam berbagai pengumuman progresif — perekrutan pemain, ekstensi kontrak, pengembangan stadion — tetapi tidak dalam pernyataan resmi pemecatan pelatih.
Musim yang Berubah Arah
Musim ini semestinya menjadi seremoni optimisme. Forest finis ketujuh musim lalu, melaju hingga semifinal Piala FA, dan kembali ke panggung Eropa setelah tiga dekade.
Ekspektasi menjulang. Momentum terasa matang.
Namun awal musim justru menjadi titik infleksi. Kepergian Nuno mengubah atmosfer. Arah klub tampak kehilangan garis tegas, seperti kapal dengan kompas yang goyah.
Yang diharapkan sebagai fase akselerasi berubah menjadi musim penuh ketidakpastian.
Forest memiliki banyak alasan untuk mengapresiasi Marinakis atas progres signifikan beberapa tahun terakhir. Tetapi dalam konteks musim yang sarat turbulensi ini, garis tanggung jawab utama sulit dipisahkan dari figur pemilik.
Sepak bola, pada akhirnya, bukan hanya tentang visi besar — melainkan juga konsistensi dalam menjaganya.
BACA JUGA: 8 Kandidat Pelatih Man United Setelah Thomas Tuchel Menepi: Ratcliffe Harus Menghubungi Xabi Alonso?
