Starting XI Bintang Inggris yang Tersingkir dari Skuad Piala Dunia 2026: Keputusan Thomas Tuchel Sulit Dinalar

pojokgol – Pengumuman skuad final England national football team menuju 2026 FIFA World Cup langsung memantik turbulensi opini di kalangan publik sepak bola Inggris. Nama-nama yang dipilih Thomas Tuchel justru menghadirkan tanda tanya besar ketimbang rasa optimisme.
Sebagai salah satu representasi terkuat Eropa, Inggris kembali dipandang sebagai kontestan premium dalam perburuan trofi paling prestisius di jagat sepak bola. Ambisi mereka jelas: memutus kutukan panjang tanpa mahkota dunia yang telah membelenggu selama tujuh dekade.
Namun di balik daftar 26 pemain pilihan Tuchel, terselip sederet figur elite yang justru ditinggalkan. Beberapa di antaranya bahkan tampil impresif sepanjang musim dan dianggap layak menjadi fondasi utama The Three Lions.
Berikut susunan starting XI pemain Inggris yang gagal memperoleh tiket menuju Piala Dunia 2026.
Penjaga Gawang

Nick Pope
Nama pertama yang memantik keheranan ialah Nick Pope. Kiper milik Newcastle United F.C. tersebut memperlihatkan performa stabil sepanjang musim dengan torehan tujuh clean sheet yang memperkokoh lini belakang The Magpies.
Ironisnya, Tuchel justru lebih condong memilih James Trafford yang minim eksposur bersama Manchester City F.C.. Situasi itu memunculkan pertanyaan besar terkait parameter seleksi sang pelatih.
Lini Pertahanan

Bek Kiri — Luke Shaw
Absennya Luke Shaw dari daftar final terasa janggal. Bek kiri Manchester United F.C. tersebut justru menikmati salah satu periode paling konsisten dalam beberapa musim terakhir.
Setelah lama diganggu problem kebugaran, Shaw akhirnya tampil reguler dan menghadirkan keseimbangan antara agresivitas ofensif serta disiplin bertahan. Banyak pendukung Inggris sulit memahami mengapa pemain dengan profil seperti dirinya malah disisihkan.
Bek Tengah — Fikayo Tomori
Fikayo Tomori kembali menjadi korban keputusan kontroversial. Pilar lini belakang AC Milan itu tampil kukuh dan nyaris tak tergantikan sepanjang musim.
Kecepatannya dalam membaca ruang, duel satu lawan satu, hingga distribusi bola modern seharusnya menjadi aset berharga untuk Inggris. Tetapi Tuchel tampaknya memiliki kalkulasi berbeda.
Bek Tengah — Harry Maguire
Salah satu nama yang paling ramai diperdebatkan tentu Harry Maguire. Bek jangkung milik Manchester United itu sukses merehabilitasi reputasinya lewat penampilan solid sejak musim lalu.
Maguire tampil dominan dalam duel udara, memiliki naluri kepemimpinan kuat, dan memperlihatkan karakter tempur yang sering kali krusial di turnamen besar. Karena itu, keputusan mencoretnya terasa cukup menggelitik logika publik.
Bek Kanan — Trent Alexander-Arnold
Tidak masuknya Trent Alexander-Arnold juga menghadirkan aroma kontroversi tersendiri. Pemain yang kini berseragam Real Madrid CF memang sempat mengalami fase adaptasi yang tidak ringan di sepak bola Spanyol.
Meski demikian, kualitas kreatifnya tetap sulit dipungkiri. Dalam sistem permainan Tuchel, Alexander-Arnold sebenarnya punya kapasitas untuk menjelma sebagai inverted fullback dengan dimensi distribusi luar biasa.
Sektor Tengah

Alex Scott
Bintang muda Alex Scott juga gagal memperoleh panggilan. Gelandang milik AFC Bournemouth itu justru menunjukkan perkembangan signifikan musim ini.
Dengan 39 penampilan, empat gol, serta kontribusi dinamis di area tengah, Scott dianggap memiliki profil modern yang sangat kompatibel dengan sepak bola intensitas tinggi.
Adam Wharton
Nama Adam Wharton termasuk salah satu kejutan terbesar dalam daftar pencoretan. Motor permainan Crystal Palace F.C. tersebut tampil impresif lewat kombinasi visi, distribusi progresif, dan ketenangan mengatur tempo.
Satu gol dan tujuh assist dari 51 pertandingan menjadi bukti bahwa Wharton berkembang menjadi salah satu orchestrator muda paling menjanjikan di Inggris.
Morgan Gibbs-White
Kapten Nottingham Forest F.C., Morgan Gibbs-White, juga bernasib serupa. Padahal ia merupakan figur sentral di balik kebangkitan Forest musim ini.
Dengan koleksi 17 gol dan tujuh assist, Gibbs-White menjelma sebagai gelandang serang eksplosif yang sanggup menghidupkan ritme ofensif timnya. Anehnya, performa impresif tersebut tidak cukup untuk memikat Tuchel.
Lini Serang

Sayap Kiri — Phil Foden
Keputusan mencoret Phil Foden mungkin menjadi salah satu keputusan paling berani. Memang, performanya mengalami sedikit penurunan dibanding musim sebelumnya.
Tetapi statistik 10 gol dan tujuh assist bersama Manchester City tetap menunjukkan bahwa Foden masih berada di level kompetitif elite. Kreativitas, mobilitas, dan fleksibilitas taktisnya sejatinya dapat menjadi senjata vital Inggris.
Sayap Kanan — Jarrod Bowen
Jarrod Bowen juga layak merasa kecewa. Penyerang West Ham United F.C. tersebut tampil sebagai episentrum serangan timnya dengan kontribusi 10 gol dan 11 assist.
Namun Tuchel lebih memilih Noni Madueke untuk mengisi sektor tersebut, sebuah keputusan yang memecah opini banyak pengamat.
False Nine — Cole Palmer
Nama terakhir yang sulit diabaikan adalah Cole Palmer. Playmaker Chelsea F.C. itu memang sempat terganggu cedera, tetapi produktivitasnya tetap terjaga.
Dengan catatan 10 gol dan tiga assist, Palmer perlahan kembali menemukan ritme terbaik menjelang akhir musim. Kreativitasnya di area sempit dan kecerdasan membaca ruang membuat absennya dirinya terasa amat disayangkan.
Pada akhirnya, keputusan Thomas Tuchel memang sepenuhnya berada dalam otoritas sang pelatih. Akan tetapi, melihat banyaknya nama elite yang tereliminasi, wajar bila publik Inggris mempertanyakan arah serta visi skuad The Three Lions menuju Piala Dunia 2026.
Related Posts
Prediksi Meksiko vs Portugal 29 Maret 2026: Ujian Mental di Tengah Atmosfer Baru
Pembaruan Daftar Negara yang Telah Mengantongi Tiket ke Piala Dunia 2026: Cape Verde Menoreh Sejarah
Timnas Spanyol Modern: Estetika, Ketegasan, dan Dominasi Baru di Eropa
About The Author
Bayu Hutabarat
Penggemar gila sepak bola manca negara, ikutin artikel saya secara tidak langsung jadi gila sepak bola juga!
