7 Dosa Besar Ruben Amorim di Manchester United: Dari Taktik Membatu hingga Benturan Terbuka dengan Para Legenda

pojokgol.net – Kisah Ruben Amorim di Old Trafford berakhir bak tragedi klasik—pendek, getir, dan menyisakan serpihan harapan yang hancur. Dalam rentang 14 bulan yang terasa lebih lama dari musim dingin Inggris, sosok yang semula dielu-elukan sebagai arsitek kebangkitan justru meninggalkan lanskap yang porak-poranda.
Datang dengan kredensial berkilau usai mengantar Sporting Lisbon ke singgasana, Amorim gagal mengonversi reputasi menjadi realitas. Sir Jim Ratcliffe menanti era baru; yang tiba justru catatan suram paling kelam dalam kronik klub. Trofi tak kunjung hadir, sementara statistik muram berderap tanpa ampun.
Kejatuhan ini bukan kecelakaan tunggal. Ia lahir dari akumulasi salah langkah, friksi internal, dan keteguhan yang berubah menjadi kekakuan. Berikut tujuh “dosa” yang menjadi sumbu pemantik pemecatan pelatih asal Portugal tersebut.
1. Pengakuan Paling Menjatuhkan: “Tim Terburuk dalam Sejarah”

Alih-alih meniupkan bara motivasi, Amorim memilih pisau kata. Usai tumbang 1–3 dari Brighton, ia melabeli Manchester United sebagai tim terburuk sepanjang sejarah klub—sebuah vonis yang mematahkan psikis ruang ganti.
Kekalahan itu memang mengukuhkan rekor kandang paling muram Setan Merah dalam 131 tahun. Namun, alih-alih merangkul tanggung jawab, Amorim bersembunyi di balik dogma pribadinya.
“Kami mungkin tim terburuk dalam sejarah Manchester United,” ucapnya tanpa penyangga, Januari 2025.
“Saya tidak akan berubah, apa pun risikonya,” lanjutnya, bernada defiant.
2. Malam Bilbao yang Mengubur Musim: Final Liga Europa

Panggung Liga Europa seharusnya menjadi tali penyelamat. Nyatanya, di final melawan Tottenham yang tengah pincang, United tampil seperti kompas rusak—bergerak tanpa arah.
Skuad Amorim takluk dari pasukan Ange Postecoglou yang juga dilanda krisis. Akibatnya fatal: finis liga di urutan ke-15, nol gelar, nol pelipur lara.
Serbuan crossing repetitif dengan Harry Maguire diplot sebagai penyerang darurat menjadi ikon keputusasaan. Malam itu jauh dari “United Way” yang diagungkan publik Old Trafford.
3. Episode Grimsby Town: Papan Taktik di Tengah Hujan

Adegan paling ikonis sekaligus memilukan terjadi di EFL Cup. Menghadapi Grimsby Town—tim divisi empat—United bertabur nilai £220 juta justru tertinggal dua gol tanpa balas.
Kamera mengabadikan Amorim yang gelisah, mencoret papan taktik di tepi lapangan, diguyur hujan seperti metafora kariernya. Sebuah tableau ironis bagi nakhoda klub raksasa.
United sempat menyamakan skor, namun tersungkur lewat adu penalti 11–12. Amorim pun mengakui, tanpa tedeng aling-aling, bahwa lawan bermain lebih superior.
4. Perang dengan “Bomb Squad”

Ketegasan berubah menjadi otoritarianisme. Amorim menciptakan oposisi internal dengan membekukan nama-nama besar: Marcus Rashford, Jadon Sancho, dan Alejandro Garnacho.
Rashford serta Sancho disingkirkan lewat status pinjaman. Garnacho dilepas ke Chelsea setelah keluhannya bergaung di media sosial.
“Saya akan memilih siapa pun sebelum pemain yang tidak memberi segalanya,” sindir Amorim, menohok Rashford secara tak langsung.
5. Bayang-Bayang Legenda Old Trafford
Tekanan dari pundit yang juga legenda klub menjadi duri lain. Amorim tampak rapuh menghadapi kritik Gary Neville dan Paul Scholes.
Scholes bahkan menyarankan Kobbie Mainoo hengkang karena minim menit bermain. Situasi memanas ketika anak Scholes melontarkan makian di media sosial—api kecil yang membesar.
Alih-alih memusatkan energi pada lapangan, Amorim terperangkap dalam duel verbal dengan masa lalu klub.
6. Kekakuan Formasi 3-4-2-1
Skema tiga bek kesayangannya menjelma jerat. Formasi 3-4-2-1 tampil kaku, meminggirkan kenyamanan banyak bintang United.
Ia sempat menyimpang ke 4-2-3-1 saat menaklukkan Newcastle di Boxing Day—hasilnya manis. Namun, dua laga terakhirnya kembali ke “setelan pabrik” dan berujung imbang.
“Bahkan Paus pun takkan membuat saya mengubah gaya,” ucapnya suatu waktu, setengah berseloroh, sepenuh keras kepala.
7. Ledakan Pamungkas: “Saya Manajer, Bukan Pelatih”
Klimaks terjadi pasca laga kontra Leeds. Di ruang konferensi pers, Amorim meledak—menyemprot manajemen dan direktur olahraga.
Ia menuding minimnya dukungan bursa transfer dan menuntut otoritas penuh. Ultimatum dilayangkan: 18 bulan, atau ia pergi.
“Tujuan saya di sini adalah jadi manajer Manchester United, bukan cuma instruktur taktik di lapangan. Jika klub tak sanggup menghadapi Gary Neville, maka klub yang harus berubah,” serunya lantang.
Ironinya pahit. Ultimatum itu gugur dalam 18 jam. Surat pemecatan pun mendarat—dingin, final, dan tak terbantahkan.
BACA JUGA: Ketika Ruben Amorim Merasa Dikhianati Manajemen Manchester United dalam Urusan Transfer
Related Posts
Enzo Maresca Tegas: Chelsea Tak Akan Rekrut Kembali Diego Costa
Perjalanan Karir Jamie Vardy: Dari Liga Amatir hingga Menjadi Legenda Leicester City
West Ham Serius Incar Kobbie Mainoo, Siapkan Tawaran Menggiurkan!
About The Author
Bayu Hutabarat
Penggemar gila sepak bola manca negara, ikutin artikel saya secara tidak langsung jadi gila sepak bola juga!
