Monaco – Madrid Connection: Jejak Elite Para Bintang yang Pernah Menghuni Dua Singgasana Sepak Bola

pojokgol.net – Real Madrid dan AS Monaco berdiri di dua lanskap kompetisi berbeda, namun keduanya kerap menjadi altar prestise bagi talenta kelas wahid. Tak sedikit pemain berkaliber global yang pernah mengecap aura magis Santiago Bernabeu sekaligus atmosfer aristokratik Stade Louis II dalam lintasan karier mereka.
Monaco masyhur sebagai bengkel talenta—tempat bakat muda diasah hingga berkilau. Real Madrid, sebaliknya, adalah panggung supremasi yang menuntut mental baja dan ambisi tanpa jeda. Mobilitas pemain antara Monaco dan Madrid sering kali bukan sekadar transfer, melainkan simpul takdir yang mengubah orbit perjalanan profesional.
Ada figur yang singgah di Monaco demi mematangkan reputasi sebelum mendaki kasta tertinggi. Ada pula yang menjadikan klub Prancis tersebut sebagai ruang rehabilitasi karier setelah berpisah dari hiruk-pikuk Spanyol. Dari predator kotak penalti hingga arsitek lini tengah dan tembok pertahanan, jalur Monaco–Madrid menyimpan narasi berlapis dan dramatis.
Berikut deretan nama elite yang pernah menyematkan dua seragam ikonik tersebut.
Javier Saviola
Javier Saviola adalah anomali menarik—pernah mencicipi atmosfer El Clasico dari dua kutub rivalitas. Penyerang Argentina itu merapat ke AS Monaco pada 2004 lewat status pinjaman.
Selama kurang lebih satu musim di Ligue 1, Saviola mengukir 42 penampilan dengan koleksi 17 gol. Jejak kontribusinya terasa nyata, meski kisahnya di Monaco hanya sekejap.
Pada 2007–2009, ia mengenakan putih kebanggaan Real Madrid. Bersama Los Blancos, Saviola menorehkan 31 laga dan mencetak lima gol—catatan yang mungkin tak monumental, namun tetap menjadi bagian dari mozaik kariernya.
Ricardo Carvalho
Ricardo Carvalho identik dengan aura veteran yang sarat pengalaman dan lemari trofi yang berkilau. Puncak kariernya terbentang bersama Porto, Chelsea, dan Real Madrid, sebelum kemudian berlabuh di Monaco.
Bek Portugal ini bergabung dengan AS Monaco pada 2013 dan menjelma figur sentral di jantung pertahanan. Selama beberapa musim, ia menorehkan 118 penampilan—sebuah testament tentang konsistensi dan kecerdikan membaca permainan.
Sebelumnya, Carvalho mengoleksi 77 laga bersama Real Madrid (2010–2013). Portofolio prestasinya mencakup gelar Liga Champions bersama Porto, mahkota Premier League dengan Chelsea, hingga trofi LaLiga bersama Madrid.
Emanuel Adebayor
Emanuel Adebayor dikenal sebagai penyerang pengelana—jejaknya tersebar di berbagai klub elite Eropa. Namun, fondasi reputasinya justru dipahat di AS Monaco.
Antara 2003 dan 2006, Adebayor tampil dalam 115 pertandingan dan membukukan 26 gol. Produktivitas itu membuat namanya mulai disegani di panggung kontinental.
Pada 2011, ia sempat mengenakan kostum Real Madrid sebagai pemain pinjaman dari Manchester City. Meski hanya setengah musim, Adebayor tetap tercatat sebagai bagian dari skuad Jose Mourinho yang mengangkat Copa del Rey.
Fernando Morientes
Fernando Morientes adalah epitome penyerang klasik dalam sejarah Real Madrid. Bergabung sejak 1997, ia menjadi mesin gol yang setia selama bertahun-tahun.
Total 272 penampilan dan 100 gol menjadi monumen statistiknya sebelum berpisah dengan Madrid pada 2005. Namun, sebelum itu, Morientes sempat dipinjamkan ke AS Monaco pada musim 2003/2004.
Di Prancis, ia tampil 42 kali dan mencetak 22 gol—termasuk dua gol ikonik ke gawang Real Madrid di Liga Champions. Sebuah ironi yang indah. Usai Monaco tak mempermanenkannya, ia melanjutkan petualangan ke Liverpool.
James Rodriguez
James Rodriguez mencuri sorotan Eropa saat berseragam AS Monaco pada musim 2013/2014. Dalam semusim, ia membukukan 38 laga, 10 gol, dan 14 assist—angka yang mencerminkan visinya yang elegan.
Kilau performanya berlanjut di Piala Dunia 2014 bersama Kolombia, membuka pintu menuju Real Madrid sebagai salah satu rekrutan bergengsi.
Meski tak selalu selaras dengan ekspektasi masif publik Bernabeu, James tetap mencatatkan 125 penampilan (2014–2020) dengan 37 gol dan 42 assist—kontribusi yang tak bisa dipandang remeh.
Fabinho
Lintasan karier Fabinho antara Real Madrid dan AS Monaco terbilang eksentrik. Ia bergabung dengan Madrid pada 2012 untuk memperkuat Castilla lewat skema pinjaman dari Rio Ave.
Pada 2013, Fabinho sempat mencicipi skuad utama Los Blancos, namun hanya sekali tampil. Pada tahun yang sama, dia sempat main di AS Monaco sebagai pemain pinjaman sebelum akhirnya statusnya diubah jadi pemain tetap.
Di Monaco, terjadi metamorfosis krusial: dari bek kanan menjadi gelandang jangkar. Ia menorehkan 233 penampilan dengan 31 gol dan 21 assist, sebelum kemudian hijrah ke Liverpool sebagai gelandang elite.
Aurelien Tchouameni
Aurelien Tchouameni menjadi salah satu komoditas termahal dalam sejarah penjualan AS Monaco. Ia direkrut Real Madrid pada musim panas 2022 dengan mahar 80 juta euro, berpotensi membengkak hingga 100 juta euro.
Sebelum transfer besar itu, gelandang Prancis ini mencatatkan 95 penampilan bersama Monaco. Performanya memikat banyak raksasa Eropa, termasuk Liverpool.
Meski sempat melalui fase adaptasi, Tchouameni kini telah mengukuhkan diri sebagai elemen vital di Bernabeu. Hingga kini, ia membukukan 173 penampilan dengan lima gol dan tujuh assist.
Kylian Mbappe
Kylian Mbappe adalah narasi sukses paling gemilang dari jalur Monaco ke Real Madrid. Produk akademi AS Monaco ini langsung menyala di level senior.
Bersama Monaco, Mbappe mencatatkan 60 laga dan 27 gol—statistik yang cukup untuk memicu transfer masif ke PSG senilai 180 juta euro, rekor penjualan termahal klub.
Setelah menorehkan 308 pertandingan dan 256 gol bersama PSG, Mbappe resmi bergabung dengan Real Madrid pada 2024. Hingga kini, ia telah mengoleksi 85 penampilan, 74 gol, dan 10 assist—sebuah pembuka yang nyaris sinematik untuk era barunya di Los Blancos.
Koneksi Monaco–Madrid bukan sekadar jalur transfer. Ia adalah koridor prestise, tempat takdir, ambisi, dan reputasi bertaut menjadi kisah yang terus hidup dalam memori sepak bola Eropa.
BACA JUGA: Vinicius Junior dan Jude Bellingham Dihujani Cemooh Madridista, Kylian Mbappe Tampil sebagai Tameng
