Real Madrid Kini Laksana Salad Tanpa Rasa: Ada Bentuk, Minim Jiwa

Raut sedih para pemain Real Madrid setelah gawang mereka kebobolan oleh Getafe pada Selasa 3-3-2026
Raut sedih para pemain Real Madrid setelah gawang mereka kebobolan oleh Getafe pada Selasa 3-3-2026

pojokgol – Kekalahan Real Madrid dari Getafe dengan skor tipis 0-1 di Santiago Bernabeu bukan sekadar noda statistik. Ia menjelma menjadi alarm yang berdentang nyaring di tengah lorong ambisi. Tiga poin yang melayang itu terasa seperti serpihan kecil dari problematika yang lebih laten—sebuah indikasi bahwa fondasi konsistensi mereka sedang retak di saat musim memasuki fase paling menentukan.

Di program El Larguero, Tomas Roncero melontarkan opini tanpa lapisan gula. Ia berbicara lugas, nyaris getir. Menurutnya, performa Los Blancos tak lagi mencerminkan entitas yang siap bertarung sampai garis akhir. Ada sesuatu yang aus, sesuatu yang tak lagi menyala seperti sebelumnya.

Nada kritik tersebut bukanlah suara tunggal. Ia menggambarkan kekecewaan kolektif sebagian suporter yang merasakan tim ini seperti kehilangan kompas—bergerak, tetapi tanpa arah yang presisi. Penampilan yang fluktuatif menjadi repetisi yang melelahkan.

La Liga Menjauh, Bukan Karena Angka, Tetapi Karena Aura

Sosok penyerang sayap andalan Real Madrid, Vinicius Junior.
Sosok penyerang sayap andalan Real Madrid, Vinicius Junior.

Bagi Roncero, perburuan gelar domestik secara esensial sudah terlepas dari genggaman. Ia menekankan bahwa perkara ini bukan semata hitung-hitungan matematis, melainkan impresi yang ditinggalkan tim di atas lapangan.

“Dari apa yang tim ini tunjukkan kepada saya, Real Madrid telah membuang La Liga. Secara matematis masih ada peluang, tetapi sudah terlalu banyak hal yang terjadi,” ujarnya dengan nada penuh skeptisisme.

Ia menyoroti inkonsistensi sebagai penyakit kronis. Setiap kali muncul secercah optimisme—dua laga yang terlihat menjanjikan—harapan itu mendadak teredam. Seolah ada saklar yang tiba-tiba dimatikan. Energi yang sempat menyala mendadak redup. Semangat menguap. Ritme terfragmentasi.

Optimisme berubah menjadi frustrasi dalam hitungan pekan.

Erosi Nilai dan Vakumnya Figur Sentral

Aksi Antonio Rudiger saat berupaya membuang bola dalam duel antara Real Madrid melawan Getafe, Selasa (3-3-2026).
Aksi Antonio Rudiger saat berupaya membuang bola dalam duel antara Real Madrid melawan Getafe, Selasa (3-3-2026).

Roncero mengaitkan kemerosotan ini dengan periode pasca kejayaan Liga Champions ke-15 di Wembley. Sejak momen euforia itu, menurutnya, kurva kualitas skuad perlahan menurun.

“Sejak kami memenangkan yang ke-15 di Wembley, skuad ini perlahan mengalami penurunan nilai dan kami juga kehilangan daya tarik di bursa transfer,” ucapnya, mengisyaratkan adanya degradasi yang tak kasat mata namun terasa.

Ia juga menyoroti absennya regenerasi yang presisi. Pilar-pilar utama tak digantikan dengan substitusi yang setara. Struktur tim pun menjadi timpang.

“Performa tim ini lagi anjlok, padahal mereka nggak punya cadangan yang sepadan buat posisi-posisi kuncinya.”

Lebih jauh, ia menekankan absennya figur kepemimpinan yang dulu menjadi jangkar mental. Sosok seperti Ramos atau Pepe, menurutnya, bukan sekadar pemain bertahan—mereka adalah akselerator psikologis. Mereka memompa adrenalin kolektif, memberi aura intimidatif, sekaligus menegakkan disiplin di ruang ganti.

Sebagai metafora, Roncero melukiskan Real Madrid saat ini bak salad tanpa cuka, tanpa minyak zaitun, tanpa garam. Ada bentuk. Ada warna. Namun cita rasa? Nyaris nihil. Komposisinya lengkap secara visual, tetapi tidak memikat indera.

BACA JUGA: Man of the Match Roma vs Juventus: Nicolo Pisilli, Orkestrator Sunyi di Tengah Badai Olimpico

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *