Kritik Tajam Gary Lineker: Arsenal Belum Menyentuh Orbit PSG, Bayern Munchen, dan Barcelona

Wajah sedih para pemain Arsenal setelah kalah penalti lawan PSG di final Liga Champions musim 2025/2026.
Wajah sedih para pemain Arsenal setelah kalah penalti lawan PSG di final Liga Champions musim 2025/2026.

pojokgol – Kekalahan Arsenal pada final Liga Champions melawan PSG terus mengundang beragam interpretasi dari kalangan pengamat sepak bola. Di antara banyak komentar yang beredar, pandangan Gary Lineker menjadi salah satu yang paling menyita perhatian.

Meski Arsenal sukses menorehkan musim domestik yang gemilang dengan merebut gelar Premier League, kegagalan di panggung Eropa kembali memantik perbandingan dengan klub-klub elite benua tersebut. Namun demikian, Lineker menilai masih ada perbedaan kualitas yang belum mampu dijembatani oleh skuad Mikel Arteta.

PSG Dinilai Pantas Mengangkat Trofi

PSG resmi angkat trofi Liga Champions musim 2025-2026.
PSG resmi angkat trofi Liga Champions musim 2025-2026.

Perjalanan Arsenal mengejar gelar ganda musim ini berakhir pahit di Budapest. Mereka sempat berada di atas angin berkat gol Kai Havertz. Akan tetapi, keunggulan tersebut gagal dipertahankan sebelum akhirnya tumbang lewat adu penalti kontra PSG.

Menurut Lineker, hasil itu bukan sekadar produk dari satu malam pertandingan. Sebaliknya, hal tersebut mencerminkan jalannya turnamen secara menyeluruh. Dalam penilaiannya, PSG memang tampil sebagai tim paling solid sepanjang kompetisi dan layak menutup musim dengan status juara.

“Jelas ini menyakitkan bagi Arsenal, tetapi saya memang merasa tim terbaik di kompetisi ini akhirnya menjadi pemenang,” ujar Lineker dalam podcast The Rest is Football.

Ia juga menambahkan bahwa, dari sudut pandang penonton netral, Arsenal kemungkinan memang harus bermain dengan pendekatan seperti itu. Meski begitu, ia percaya kemenangan PSG sekaligus menjadi kemenangan bagi sepak bola yang lebih progresif dan ekspresif.

Arsenal Masih Berada di Bawah Tiga Kekuatan Eropa

Kekecewaan mendalam skuad Arsenal gara-gara gagal juara Liga Champions pasca kalah dari PSG pada 30 Mei 2026 kemarin.
Kekecewaan mendalam skuad Arsenal gara-gara gagal juara Liga Champions pasca kalah dari PSG pada 30 Mei 2026 kemarin.

Lineker tidak mengabaikan kualitas pertahanan Arsenal. Sebaliknya, ia secara terbuka memuji organisasi permainan mereka yang begitu disiplin dan rapi. Namun, pujian tersebut tidak otomatis menempatkan Arsenal pada strata yang sama dengan tim-tim paling atraktif di Eropa saat ini.

Baginya, sepak bola bukan hanya urusan efisiensi atau hasil akhir. Selain itu, olahraga ini juga berbicara tentang kreativitas, keberanian menyerang, dan kemampuan menyuguhkan hiburan bagi publik.

Oleh sebab itu, Lineker menempatkan PSG, Bayern Munchen, dan Barcelona sebagai tiga tim dengan identitas permainan paling memikat sepanjang musim.

“Saya memahami ada banyak pendekatan berbeda dalam sepak bola, dan bermain defensif bukan sesuatu yang keliru,” katanya.

“Namun, pada saat yang sama, sepak bola adalah hiburan. Penonton tentu ingin menyaksikan tim yang positif, kreatif, diperkuat pemain kelas dunia, serta mampu memainkan sepak bola yang indah.”

“Musim ini, menurut saya, PSG, Bayern Munchen, dan Barcelona menjadi tiga tim yang paling mencerminkan karakter tersebut.”

Hasil yang Dianggap Menguntungkan Bagi Sepak Bola

Lineker juga mengakui bahwa pendekatan hati-hati Arsenal kemungkinan merupakan keputusan yang realistis, mengingat kualitas individu yang dimiliki PSG. Di sisi lain, strategi itu menunjukkan betapa besar rasa hormat Arsenal terhadap ancaman lawannya.

Walau tampil konsisten sepanjang turnamen, langkah The Gunners akhirnya terhenti di pengujung perjalanan. Pada akhirnya, Eberechi Eze dan Gabriel gagal menuntaskan tugas mereka dalam babak adu penalti.

“Arsenal luar biasa dalam bertahan, dan PSG tidak menghasilkan banyak peluang karena organisasi permainan mereka sangat kuat,” lanjut Lineker.

“Meski demikian, sebagai penonton netral, saya melihat ini sebagai hasil yang positif bagi sepak bola.”

Ia lalu menutup komentarnya dengan pernyataan yang lugas. Menurutnya, jika berbicara tentang bagaimana sepak bola idealnya dimainkan, maka tim terbaik memang pantas keluar sebagai pemenang.

BACA JUGA: Liverpool Akhiri Kiprah Ibrahima Konate, Berpisah Tanpa Biaya Transfer

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *