Ketika Ruben Amorim Merasa Dikhianati Manajemen Manchester United dalam Urusan Transfer

pojokgol.net – Bayang-bayang ketidakpastian kini menggantung di atas kepala Ruben Amorim di Manchester United. Relasinya dengan Jason Wilcox, sosok penting di balik layar Old Trafford, dikabarkan mengalami keretakan serius. Direktur teknik tersebut menjelma menjadi poros konflik yang memanaskan suasana internal klub, memicu riak yang tak lagi bisa disembunyikan.
Guncangan emosional itu mencapai titik didih selepas duel kontra Leeds United, Minggu (4/1/2026) malam WIB. Ledakan verbal Amorim bukanlah reaksi spontan semata, melainkan akumulasi dari friksi panjang yang menggerogoti kepercayaan. Hubungan yang timpang ini membuat sang pelatih berdiri di atas papan rapuh—sedikit goyah, bisa terjungkal.
Apa yang terjadi ternyata jauh melampaui skor imbang di lapangan. Di balik tirai, berlangsung adu pengaruh dan tarik-ulur kebijakan. Sebuah perang sunyi, dingin, namun menggigit. Amorim merasa ditinggalkan tepat ketika ia membutuhkan dukungan paling nyata: jendela transfer Januari.
Janji Manis yang Menguap

Pada mulanya, Amorim melangkah dengan keyakinan penuh. Ia percaya Manchester United siap memompa energi baru lewat perekrutan pemain berkaliber. Namun, keyakinan itu berbalik menjadi kekecewaan ketika arah kebijakan klub berbelok tajam tanpa aba-aba.
Perubahan tersebut disebut-sebut lahir dari meja Jason Wilcox yang kemudian dilaporkan kepada CEO Omar Berrada. Amorim merasakan pahitnya pengkhianatan: amunisi yang dijanjikan tak kunjung tiba. Ia seperti jenderal yang diminta berperang dengan peluru terbatas.
Isyarat kegundahan sebenarnya sudah terlihat ketika Amorim menutup rapat pembahasan soal anggaran. Sikapnya dingin, jawabannya singkat—pertanda ia paham sedang berada dalam sorotan.
“Aku nggak mau bahas soal itu,” katanya sambil mencoba menahan diri.
“Anda sangat pintar,” tambahnya, seolah menyiratkan ironi.
Kasus Mainoo dan Keraguan Para Penguasa Klub

Benih keraguan manajemen terhadap Amorim ternyata telah tumbuh sebelum drama konferensi pers di Leeds. Temperamennya dianggap terlalu meledak-ledak, kurang sejalan dengan stabilitas yang diidamkan petinggi klub.
Perbedaan visi paling tajam berpusat pada Kobbie Mainoo. Amorim disebut tak menempatkan gelandang muda itu sebagai prioritas, sementara manajemen bersikeras menjaga aset berusia 20 tahun tersebut seperti permata masa depan.
Meski Mainoo tengah berkutat dengan cedera dan bukan figur sentral dalam skema Amorim, hierarki klub menolak keras opsi penjualan. Dalam pusaran konflik ini, posisi Wilcox menguat berkat sokongan penuh dari Omar Berrada. Bahkan Christopher Vivell, kepala rekrutmen, dikabarkan mulai mengernyitkan dahi terhadap pendekatan taktik Amorim.
Ledakan di Elland Road

Seluruh akumulasi frustrasi itu akhirnya tumpah di Elland Road. Dalam konferensi pers pascalaga, Amorim melontarkan kritik tajam ke arah departemen scouting dan direktur olahraga. Nada bicaranya pedas, sarat penegasan.
Ia menolak dilabeli sekadar pelatih kepala. Baginya, jabatan manajer berarti kendali penuh—bukan boneka yang hanya mengatur cone latihan.
“Saya melihat kalian menerima informasi yang dipilah-pilah,” katanya dengan sindiran terbuka.
“Aku datang ke sini buat memegang kendali sebagai manajer Manchester United, bukan cuma buat melatih pemain aja. Itu terang,” lanjutnya, berapi-api.
Ultimatum 18 Bulan
Tak berhenti di situ, Amorim melemparkan pernyataan yang terdengar seperti garis batas. Ia menyebut masa kerjanya tinggal 18 bulan, lalu pergi. Sebuah tantangan telanjang bagi dewan direksi: dukung atau lepaskan.
Ia menuntut profesionalisme menyeluruh. Semua lini harus bekerja dengan standar tinggi, tanpa drama selektif.
“Setiap departemen—scouting, direktur olahraga—harus menjalankan tugasnya. Saya akan menjalankan tugas saya selama 18 bulan, lalu kita berpisah,” ujarnya tegas.
“Jika orang-orang tak sanggup menghadapi Gary Neville dan kritik yang datang, maka klub ini yang perlu berubah,” pungkas Amorim, sebelum meninggalkan ruangan dengan langkah berat namun mantap.
Related Posts
Semua Orang Kini Menunggu Arsenal Terpeleset di Perjalanan Menuju Gelar Juara Premier League
Pemain MU Christian Eriksen Siap Berpisah Setelah Kontrak Tidak Diperpanjang
Kontrak Hampir Usai, Ibrahima Konate Jadi Incaran Trio Elite Premier League
About The Author
Bayu Hutabarat
Penggemar gila sepak bola manca negara, ikutin artikel saya secara tidak langsung jadi gila sepak bola juga!
